Buscar

Selasa, 21 Februari 2012

Manusia dan Alien




 
Manusia dan alien –jika kita mengatakan itu ada– sama-sama makhluk yang memiliki misteri. Alien bermisteri dengan keberadaannya yang hingga saat ini belum terpecahkan. Manusia pun pada dasarnya memiliki misteri, entah itu dari perilakunya, dari pemikiran, serta dari apa yang akan mereka tuju. Manusia dan alien tentu sangat berbeda, dan tidak ada yang namanya manusia alien. Manusia ya manusia, alien ya alien.
Konon, menurut Mulla Sadra, seorang filsuf Persia, alam ini jumlahnya 70. Setiap alam memiliki penghuninya masing-masing. Umumnya yang kita ketahui sekarang adalah alam rahim, alam dunia, alam kubur, alam akhirat. Itu pun bagi mereka yang mengakui keberadaan Tuhan.
Jika saja pandangan Mulla Sadra mengenai kosmologi alam itu benar, maka bisa dimungkinkan alien itu ada dan menempati satu di antara 70 alam tersebut. Mereka mungkin memiliki tempat tersendiri, hukum alam sendiri, serta kenahasannya sendiri.
Terlepas dari pandangan Sadra tentang alam, tidak sedikit ilmuwan yang meyakini bahwa alien itu ada. Mereka mengatakan bahwa alien adalah makhluk yang super-cerdas dan tidak mungkin makhluk sejenis homo sapien dapat menandinginya. Kehidupannya pun ‘terasing’ dari kehidupan dunia manusia. Entah di mana, sudah berapa juta tahun, atau apa saja yang sudah mereka lakukan di alamnya.
Realitas
Immanuel Kant, seorang filsuf berkebangsaan Jerman membagi realitas ke dalam dua bagian; fenomena dan noumena. Yang pertama adalah realitas yang bisa dijangkau manusia, baik itu menggunakan panca indra maupun dengan rasio manusia. Sedangkan noumena adalah realitas yang tidak dapat dijangkau oleh rasio terlebih panca indra manusia.
Bagaimana hubungan antara fenomena dengan noumena tersbut. Menurut Kant, setiap peristiwa di baliknya selalu ada noumena. Fenomena dengan demikian bisa pula dikatakan sebagai yang nampak, dan noumena sebagai yang tidak nampak. Sulit pula disebutkan bahwa hubungan keduanya adalah sebab-akibat. Mengapa? Karena jika demikian, neumena itu akan bisa terjawab karena ia merupakan sebab dari fenomena.
Singkat kata, Kant menyimpulkan bahwa noumena tidak akan pernah bisa dijamah oleh manusia. Ia akan tetap menjadi misteri sampai kapan pun. Manusia akan selalu asing dengan yang namanya noumena.
Pelajaran
Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari alien dan pembagian realitas dari Kant di atas? Apakah kata ‘alien’ memiliki keterikatan dengan kata ‘alienasi’ yang sering kali kita gunakan?
Jika menggunakan dua kata tersebut secara arbitrer, sebenarnya ada misteri yang saling terkait antara ‘alien’ dan ‘alienasi’. Yang satu menggambarkan makhluk yang diduga berasal dari ruang angkasa, dan yang satu lagi menggambarkan makhluk (manusia) yang bermasalah. Dua kata tersebut memiliki makna yang sama sebagai yang ‘terasing’ dan ‘misteri’.
Manusia merasa asing terhadap alien, namun manusia juga akan merasa terasing terhadap dirinya sendiri ketika ia mengalami alienasi. Alienasi ini terjadi ketika manusia keluar dari kondisi kemanusiaannya. Kesibukan kerja, hiruk pikuk dunia, atau kesenangan terkadang akan menyebabkan alienasi terhadap diri manusia.
Mungkin saja si makhluk alien juga merasa aneh melihat geliat dan pola manusia; sebenarnya siapa yang asing dan bagi siapa keasingan itu? Mungkin saja alien juga menganggap kita ini asing, sebagaimana manusia menyebut alien sebagai makhluk asing.
Keterasingan yang terjadi dalam diri manusia banyak diakui karena sebab manusia tidak tahu dari mana mereka berasal. Jangan lupa juga, dalam memecahkan misteri alien, ilmuwan sering kali mencari tahu dari mana alien itu berasal.
Manusia dan Alien
Kembali lagi pada alienasi manusia. Orang-orang yang memercayai Tuhan menjawab bahwa manusia berasal dari yang Satu, Berkuasa, dan Kekal. Sedangkan bagi kaum atheis, manusia itu juga berasal dari yang satu, namun dalam pengertian ontologi yang berbeda. Bagi umat Islam misalnya, manusia itu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.
Mereka yang beralienasi adalah yang tidak mengenal dari mana mereka berasal. Oleh karena itu dalam Islam terdapat kalimat; man arafa nafsahu faqod arrofa robbahu, artinya; barang siapa mengenai dirinya maka ia mengenal Tuhannya.
Kita merasa asing terhadap alien sudah barang tentu karena kita tidak mengenalnya. Begitu pula kita merasa asing terhadap diri sendiri karena kita tidak mengenalnya. Alien dan manusia sama-sama asing dan misterius.
Keasingan dan misteris atau noumena itu akan berhenti pada satu titik di mana kita kembali pada keaslian wujud yang membuat semua wujud di alam semesta ini ada. Terlepas dari alien itu ada atau tidak ada, jika ada eksistensi yang belum bisa dibuktikan, maka ia pun belum bisa dibantah.

0 komentar:

Silahkan Tinggalkan Komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... -->
 
All About Lembaga cyber information | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger