Buscar

Jumat, 02 Desember 2011

Melestarikan Sisa Sejarah Dunia di Abad Modern


SH/Tinnes Sanger
Aneka replika pedang kuno keluaran Marto, Spanyol. Produsen ini dikenal sebagai ”embah”-nya pabrik pembuatan replika pedang kuno.h masa lalu dapat terus dikenang hingga generasi terakhir.

JAKARTA - Bagi kolektor barang antik, replika alat perang kuno menarik untuk dikoleksi. Bentuk yang betul-betul mirip dengan yang asli seolah mengingatkan kita pada kisah perang pada masa lalu. Sebuah awal perjalanan teknologi manusia untuk menganiaya sesama.
Anton Tanadi (41), salah seorang pehobi, mengaku puas ketika bisa memboyong replika alat-alat perang kuno ke rumahnya. Baginya, alat-alat itu tak hanya memuaskan kerinduan koleksi benda antik, tapi sekaligus melestarikan sejarah yang pernah bergulir di dunia.





”Sekarang ini, banyak anak-anak muda yang sering lupa dengan sejarah dunia. Kalau ditanya, siapa itu Napoleon atau perang yang terjadi pada masa renaissance kebanyakan mereka geleng kepala. Kadang-kadang mereka juga masih merasa asing dengan keberadaan benda-benda itu.”

Dari sikap acuh tak acuh itu, jadilah mereka buta sejarah dunia. Padahal, kata Anton, sejarah tak bisa ditinggalkan begitu saja. Sebagai generasi muda, mereka harus turut melesatarikan sejarah meski pada kenyataan itu sebuah kisah hitam dalam hidup. ”Sebetulnya dalam koleksi replika alat perang kuno ini penekanan pendidikannya kental sekali. Kita dididik untuk bisa merawat dan melestarikan benda-benda itu. Dari situ muncullah kesadaran untuk menghargai sejarah,” tambah Anton yang memiliki ratusan replika alat perang kuno di rumahnya.

Pernyataan Anton rasanya bukan isapan jempol. Sang produsen replika alat-alat perang ini telah membekali tiap produknya dengan sekelumit sejarah singkat. Kisah pendek itu tertempel pada body tiap benda antik. Dengan desain menarik, siapa pun bisa membacanya dengan mudah.

Sebagai contoh, Anton menyodorkan sebuah replika pistol yang pernah dipakai George Washington saat ia memimpin pasukan Continental dalam Perang Amerika tahun 1775 – 1781. Berdasar informasi yang tertempel pada badan pistol, Marto sang produsen, tak hanya mengisahkan perjalanan pistol saat menemani Washington bertempur tetapi juga memberi gambaran kisah heroik presiden pertama Negeri Paman Sam ini. Dalam perjalanannya, Washington -anak dari pengusaha perkebunan Augustine Washington- pernah mengalami beberapa kekalahan. Namun berkat kekompakan dengan pasukannya, mereka menang di Trenton dan Princeton (1776 – 1777) dan sebuah kemenangan penting di Yorktown (1781). Berkat kepemimpinan dan strategi yang jitu tadi, Washington pun diakui sebagai kepala pasukan yang hebat.

Saat ditanya alat tembak favorit, Anton menunjuk pistol Napoleon double barrel. ”Desain pistol ini sangat unik dan grafir yang ada begitu bagus. Marto membuat pistol ini dengan rapi dan cermat. Keunikan lainnya ada pada dua pelatuk. Jadi dulu kalau orang harus memasukkan satu persatu peluru, tapi dengan pistol ini Napoleon bisa sekaligus memakai dua peluru. Keuntungannya jelas, orang hanya menembak sekali, Napoleon bisa dua kali,” kata Anton sambil mencontohkan cara mengisi peluru pada pistol itu. Karena benda koleksi, replika ini tak bisa dipakai sebagaimana pistol yang asli. Artinya, tak berbahaya untuk ditaruh atau dipajang di ruang tamu.

Berkembang Luas
Di dunia, hobi mengoleksi alat-alat perang kuno ini berkembang pesat. Jenisnya tak hanya didominasi oleh pistol saja, ada koleksi berupa aneka replika pedang antik yang pernah digunakan pada perang zaman kerajaan dulu.

Jenisnya dari pedang Romawi, Eropa (termasuk pada masa medieval dan rennaisance), pedang Skotlandia, Oriental hingga masa perang saudara. Ada pula replika pedang yang pernah digunakan dalam pengambilan film. Sebut saja, replika pedang dalam film Highlander, Braveheart, Excalibur, Gladiator dan masih banyak lagi. Selain pedang, ada baju besi tentara pada perang kerajaan, replika tentara kuda, pedang mini sebagai pembuka surat, replika meriam kuno, senapan lawas dan lainnya.

Nama-nama yang muncul sebagai produsen pun banyak. Bukan cuma Marto dari Spanyol saja, ada Factory-X yang memproduksi pedang dan pernik-pernik lain yang ada hubungannya dengan sinema. Contoh produksi Factory-X paling terkenal adalah Sword of Maximus dan Sword of the Day Walker. Pedang yang disebut pertama digunakan dalam film Gladiator, sedangkan produk terakhir dalam Blade and Blade II. Kebanyakan produk mereka dibuat Windlass Steelcrafts di India.

Selain itu, nama Martespa patut dikedepankan. Perusahaan pembuat pedang ini masih termasuk grup Marto. Bedanya, Martespa lebih terkonsentrasi pada pembuatan pedang-pedang fantasi dan reproduksi alat perang kuno (armour).
Mereka juga membuat macam-macam gift item (cenderamata) yang unik. Soal kualitas, tak ada bedanya dengan Marto. Sebab mereka melakukan proses produksi yang sama. Kata Anton, bahan dasar yang mereka pakai adalah stainless steel nomor 420. Untuk pistol dibuat dari kayu asli Eropa. Logamnya memakai zamak, sejenis logam dari negeri yang sama.
Dari Amerika Serikat ada produsen yang bernama C.A.S Iberia. Produsen ini membuat jenis-jenis pedang yang ada di seluruh dunia. Mereka juga mengeluarkan produk hasil desain sendiri. Buatan mereka tergolong bagus dan kuat. Tak kalah dengan Marto dan Martespa. Iberia memakai bahan High Carbon Spring Steel.

Untuk merawat tiruan alat-alat perang kuno itu caranya gampang, tak memerlukan cara-cara yang khusus. Hanya saja yang perlu dicermati adalah pemakaian kain lap untuk menggosok bahan stainless steel itu. ”Saya sarankan memakai kain khusus yang sudah ada obat pembersihnya.
Kain ini sangat berguna untuk menggosok mata pedang. Kilaunya bisa terjaga. Atau bisa memanfaatkan kain kuning yang biasa dipakai di toko emas. Sebagai bahan pembersihnya, sun poly (sejenis obat gosok dalam dunia otomotif),” papar Anton yang juga pemilik Caesars Spain, toko koleksi yang menjadi agen tunggal bagi Marto di Indonesia. Ia pun mengingatkan agar tak memakai obat pembersih sejenis brasso. Sebabnya, terlalu keras untuk bahan stainless steel.

Frekuensi penggosokan tak perlu tiap hari. ”Ya, kalau sudah terlihat kotor langsung saja bersihkan. Tapi biasanya para kolektor ini, selalu gatal ingin memegang koleksi kesayangan. Dan pada saat itu sekaligus dilap agar selalu bersih. Dari situ, ada rasa bangga yang begitu tinggi,” imbuh Anton. Bila sibuk, untuk membersihkan replika alat-alat perang cukup dua kali dalam satu bulan.
Perawatan pistol tiruan jauh lebih mudah. Tinggal ambil kemoceng untuk membersihkannya. ”Cukup dilap saja. Tak perlu pakai sun poly. Sebab pistol nggak punya bahan stainless steel,” kata Anton.

Di negara-negara Barat, para kolektor itu juga memiliki komunitas sendiri yang selalu membahas dan memberi informasi produk-produk terbaru. Tukar-menukar informasi adalah hal lumrah di sana. Malah mereka mengeluarkan beberapa bentuk media cetak sebagai penyambung tali silaturahmi.
Saat ini, sedang berkembang semangat untuk melestarikan pedang-pedang antik yang ada di dunia. Dari situ dibuat batasan yang jelas antara pengertian restorasi dan konservasi aneka pedang tadi. Mereka ingin lewat hobi ini semangat konservasi bisa terus dijalankan. Bila tertarik simak saja alamat maya, http://swordforum.com, mudah-mudahan semangat kolektor Barat juga menular di negeri sendiri.
(str/bayu dwi mardana)
Kode:
http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/103/hob1.html

0 komentar:

Silahkan Tinggalkan Komentar anda disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... -->
 
All About Lembaga cyber information | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger