Buscar

Minggu, 27 November 2011

Facebook Tutup: Hoax

Akhir-akhir ini, muncul rumor bahwa situs jejaring soial terbesar di dunia, Facebook, akan tutup mulai tanggal 15 Maret 2011.

"Facebook sudah benar-benar kebablasan, saya harus mengakhiri semua kegilaan ini. Segala tekanan saat mengelola perusahaan ini telah menghancurkan hidupku," demikian pernyataan Mark Zuckerberg (pendiri dan CEO Facebook), seperti diklaim weeklyworldnews.com.

Rumor ini merebak cepat dan menimbulkan kepanikan di social media dan berbagi blog pribadi. Namun, perlu kita cermati kenyataan bahwa "rumor" bersumber pada situs weeklyworldnews.com. Dan, tidak ada media resmi yang meneruskan mengenai hal ini.

Weekly World News (WWN) sendiri, merupakan sebuah situs parodi. "Berita" yang termuat di sana lebih tepat dikatakan "banyolan" atau semacam sindiran kepada publik. Mulai dari tulisan bahwa Sarah Palin (politikus) itu sebenarnya robot, Megan Fox (artis) sebenarnya seorang pria, Yahoo! video tidak akan menerima upload video baru mulai 14 Maret mendatang, sampai pesawat ruang angkasa alien akan menyerang bumi pada tahun ini! Berita soal penutupan Facebook hanyalah ulah terbaru WWN.

Mark Zuckerberg

Kalau dipikirkan sungguh-sungguh, sangat tidak masuk akal situs yang memiliki sekitar 500 juta pengguna akan ditutup dalam waktu dekat. Juga, rasanya tidak mungkin Mark Zuckerberg (26 tahun) yang baru memperoleh anugerah "Person of the Year 2010" (Orang yang Paling Berpengaruh Tahun 2010) dari majalah TIME ini tiba-tiba menutup perusahaannya karena tertekan.

Dan sebagai pamungkas, Facebook sendiri telah membantah rumor tersebut. Yahoo News mendapat konfirmasi langsung dari Director of Corporate Communications Facebook, yakni Larry Yu, yang menyatakan rumor itu sama sekali tidak benar.

"Jawabannya adalah TIDAK (BENAR), tolong bantu kami mengakhiri rumor menggelikan ini. Kami tidak mendapat memo tentang penutupan situs. Selain itu, banyak yang masih harus kami lakukan, jadi kami akan bekerja seperti biasa," tegas Yu.

Kebenaran sudah terungkap.
Mari kita tetap memanfaatkan jaringan pertemanan ini dengan positif!
about Cyber Information http://aboutcyberinformation.blogspot.com/

Bangkit atau Tidak, Itu adalah Pilihan

Saya pernah menonton film The Karate Kid" yang dibintangi oleh Jackie Chan dan Jaden Smith, putra aktor Hollywood Will Smith. Film ini menceritakan tentang kungfu.

Film ini terbilang sangat bagus karena di dalamnya terkandung pesan moral yang sangat berharga yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekadar adegan berkelahi.

Ada sebuah percakapan antara Jackie Chan (Han) dan Jaden Smith (Dre) dimana Jackie mengatakan lebih kurang seperti ini, "Life will knock us down, but we can choose whether we want to get back up or not." Artinya hidup akan selalu menjatuhkan atau mengalahkan kita, tetapi kita bisa memilih apakah kita mau bangkit atau tidak. Ia mengatakan itu pada saat merenungi istri dan anaknya yang tewas akibat kecelakaan mobil. Dan Jaden telah memberinya pelajaran yang berharga.

Kalimat itu sungguh menggugah diri saya. Kadang kala hidup tidak adil kepada kita. Kadang hidup kelihatannya selalu mempermainkan kita, bahkan membuat kita terjatuh. Tetapi, kita bisa memilih untuk bangkit atau menyerah kalah. Bangkit atau tidak adalah pilihan yang kita buat!

Ketika kita jatuh dalam keterpurukan, kita bisa memilih untuk merasa menjadi korban dan menyalahkan hidup yang sungguh tidak adil. Konsekuensinya, kita tidak akan bisa mengubah apa pun karena kita telah mengembangkan sikap pasrah tanpa mau berbuat apa pun untuk memperbaikinya.


Di sisi lain, ketika kita jatuh, kita bisa memilih untuk tegar dan bangkit. Kita bisa memilih untuk tidak mau menyerah kalah. Kita bisa memilih untuk terus maju menerjang rintangan dalam hidup. Jika kita bisa bersikap seperti itu, percayalah, hidup tidak akan benar-benar bisa menjatuhkan kita.

Lantas mengapa ketika jatuh, ada sebagian orang yang memilih untuk terus bangkit dan sebangian orang memilih untuk merasa terhina dan hidup dalam keterpurukan? Alasan adalah karena pilihan. Setiap hari, kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan, baik pilihan yang mudah sampai pilihan yang sangat sulit.
Apa yang kita lakukan saat ini adalah hasil dari pilihan kita. Kita bisa memilih apa pun yang kita inginkan, tanpa ada yang melarang. Kita bisa memilih untuk sukses, kita juga bisa memilih untuk menjadi biasa-biasa saja, kita bahkan juga bisa memilih untuk menjadi pecundang. Semua tergantung pada apa yang Anda pilih. Bahkan ketika kita tidak membuat pilihan, itu juga sudah merupakan pilihan.

Hidup memang akan selalu berusaha merintangi kita. Hidup tidak 'jahat', melainkan agar kita menjadi orang yang lebih kuat ketika berhasil bangkit dan melewati rintangan. Orang yang memilih untuk tidak bangkit adalah orang yang berpikir bahwa hidup ini jahat dan tidak adil. Dengan berpola pikir seperti itu, mereka merasa menjadi korban ketidakadilan. Mereka lebih memilih untuk berhenti daripada bangkit dan kemudian jatuh lagi.

Mereka yang memilih untuk bangkit tidak peduli berapa kali mereka jatuh. Mereka akan bangkit satu kali lebih banyak. Mereka memilih untuk tidak mau begitu saja dikalahkan dengan telak oleh kehidupan. Tidak heran, mereka adalah para juara yang berdiri tegak sampai garis finish.

Hidup ini penuh pilihan, apakah Anda memilih untuk bangkit atau tidak, itu adalah pilihan Anda. Ingat kata-kata ini, "Hidup akan selalu menjatuhkan atau mengalahkan kita, tetapi kita bisa memilih apakah kita mau bangkit atau tidak."
about Cyber Information http://aboutcyberinformation.blogspot.com/

Jumat, 14 Januari 2011 7 Langkah Menemukan Kebahagiaan Hidup

Kita bisa memilih jadi orang yang bahagia atau jadi orang yang tidak bahagia. Tak perlu menyalahkan faktor eksternal karena ternyata kebahagiaan itu adalah pilihan yang bisa diperjuangkan dengan sejumlah langkah. Jika mau bahagia, ada 7 langkah yang pantas dipertimbangkan diikuti.

"Kebahagiaan itu ibarat kupu-kupu. Makin sering kita memburunya, makin pintar ia mengelak dari kita. Tetapi jika kita alihkan perhatian pada hal lain, ia justru datang dan duduk manis bersandar di bahu kita," ujar penulis Henry David Thoreau.

Kita punya pilihan apakah mau hidup bahagia atau tidak bahagia.Kita bisa mati-matian mengejar kupu-kupu dan kebahagiaan tak pernah diraih, atau duduk manis dan kebahagiaan datang dengan sendirinya. Tetapi bagaimana caranya agar kebahagian menghampiri kita?

Penelitian menunjukkan bahwa bakat untuk menjadi orang yang bahagia, untuk sebagian besar kasus, ditentukan oleh faktor genetik orang bersangkutan. Psikolog Prof. David T. Lykken, penulis Happiness: Its Nature and Nurture,menyebutkan, "Mencoba untuk menjadi orang yang lebih bahagia seperti mencoba untuk jadi orang yang lebih tinggi".Masing-masing dari kita sudah punya batasan bakat bahagianya masing-masing.

Tetapi sejumlah psikolog yang meneliti soal kebahagiaanpercaya bahwa kita bisa mengejar kebahagiaan itu sampai optimal untuk masing-masing diri kita. Kita bisa melakukannya dengan membendung emosi negatif seperti pesimis, benci, dendam, dan marah. Kita juga bisa mengembangkan emosi positif, seperti empati, hidup tenteram, dan terutama belajar bersyukur. Berikut ini 7 tahap untuk menemukan kebahagiaan itu.

1. Don't Worry, Choose Happy
Tahap pertama adalah menetapkan pilihan dengan sadar bahwa kita ingin mendapatkan kebahagiaan. Dalam buku The Conquet of Happiness, Bertrand Russell mengatakan, "Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang jatuh ke mulut seperti buah yang matang. Kebahagiaan itu lebih merupakan pencapaian dibanding sebagai hadiah dari Tuhan. Dalam hal ini merupakan perpaduan antara usaha internal dan eksternal kita."

Belakangan para psikolog yang meneliti soal kebahagiaan sependapat dengannya.Menjadi bahagia itu ditentukan oleh niat dan komitmen menggapainya. "Itu merupakan pilihan yang disadari melalui sikap dan kelakuan," kata mereka.Pilihlah keinginan menjadi bahagia sebagai target tertinggi. Selanjutnya, cari cara untuk mempelajari bagaimana menggapai kebahagiaan itu. Misalnya, dengan melakukan program ulang mengenai keyakinan dan nilai-nilai diri kita. Pelajari keterampilan manajemen diri, tambah kemampuan hubungan antarpersonal, dan tingkatkan keterampilan yang mendukung karier kita.Orang yang bahagia adalah orang yang berbuat sesuatu dengan benar dan menumbuhkan nilai-nilai dirinya. Para psikolog percaya, sekali kita menetapkan target tertinggi kita adalah kebahagian, kita dengan sendirinya akan mencari strategi untuk mencapainya.

2.Tanamkan Sikap Selalu Bersyukur
Dalam bukunya Authentic Happiness, psikolog University of Pennsylvania Martin Seligman mendorong para pembacanya agar setiap hari belajar bersyukur. Ini sepertinya hal mudah. Namun banyak orang justru mengabaikannya.Buatlah daftar dari berbagai hal yang membuat kita pantas bersyukur dan berusahalah mensyukurinya. Ini akan mendorong orang menjauh dari sikap benci dan putus harapan yang akan mendorong kebahagiaan.

3.Kembangkan Sikap Mudah Memaafkan
Memelihara sikap pendendam dan suka berkeluh-kesah dapat mempengaruhi psikologi dan kesehatan kita. Satu cara untuk menguranginya adalah dengan mencoba mengembangkan sikap mudah memaafkan. Hal ini akan mengurangi berkembangnya kebencian dan dendam. Dalam bukunya Five Steps to Forgiveness, psikolog Everett Worthington, menyarankan lima tahap untuk bisa memaafkan. Pertama, ingat rasa sakit. Kemudian berempatilah dan coba pahami dengan mengambil sikap kita menjadi pelaku kejahatan. Lalu bayangkan ketika kita dimaafkan. Setelah itu berkomitmenlah bahwa rasa maaf itu akan diucapkan. Terakhir, cobalah memaafkan. Jangan terpaku pada kemarahan, sakit hati, dan keinginan untuk balas dendam.

4.Mengurangi Pikiran dan Perasaan Negatif
Dalam bukunya The Happiness Hypothesis,Jonathan Haidt membandingkan pikiran dengan orang yang sedang mengendarai gajah. Gajah menunjukkan kekuatan pikiran dan perasaan (sebagian besar tak disadari) yang mengendalikan kelakuan kita. Orang, meskipun kadang lemah, dapat mengendalikan gajah, persis seperti kita dapat mengendalikan pikiran dan perasaan negatif. "Kuncinya adalah komitmen untuk melakukan sesuatu demi melatih sang gajah," katanya. "Banyak hal yang bisa kita lakukan. Caranya hanya lakukan saja." Kadang mungkin perlu belajar bagaimana mengurangi pikiran negatif, tetapi sering kali malah dengan hanya membaca suatu buku pengaruh positif sudah bisa kita dapat.

5.Ingatlah, Uang Tak Bisa Membeli Kebahagiaan
Riset menunjukkan bahwa sekali pendapatan kita meningkat melewati ambang batas kemiskinan, memiliki kelebihan uang hanya membawa sedikit tambahan kebahagiaan. Tetapi kita tetap memegang asumsi bahwa meski barang yang dimiliki terbukti tak membawa kebahagiaan sepenuhnya, kita selalu menganggap itu salah, dan kita tak mau mengakui kalau mengejar kebahagian (dengan membeli barang) itu adalah usaha sia-sia. "Terlepas dari bagaimana kita mencapai pengejaran barang yang kita impikan, hal itu tak selalu membawa kebahagiaan yang abadi," katanya.

6.Kembangkan Persahabatan
Ada beberapa obat penawar ketidakbahagiaan dibanding memutus pertemanan dengan orang yang peduli pada kita, kata David G. Myers, penulis The Pursuit of Happiness. Sebuah penelitian di Australia menemukan bahwa orang-orang di atas 70 tahunyang memiliki jaringan pertemanan yang kuat lebih panjang umur. "Sayangnya, kehidupan masyarakat kita sekarang justru makin individualistik di mana sejumlah ahli percaya bahwa hal itu justru menjadi wabah depresi. Padahal jalinan sosial bisa menjadi penyedia dukungan di saat kita mengalami waktu-waktu sulit," katanya.

7.Ikuti Kegiatan yang Berarti
Orang jarang bahagia ketika sedang terbawa arus. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pikiran butuh tantangan untuk menyerap sesuatu yang bermakna. Meski kegiatan berlehan-leha dengan hanya menonton televisi bisa mendatangkan kebahagiaan, tetapi itu termasuk ke dalam level kebahagiaan paling rendah. Untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna kita perlu melakukan sesuatu di dalamnya seperti membantu orang. Memang itu memerlukan investasi awal berupa perhatian, tetapi akhirnya kita akan mendapat kesenangan darinya.

Nah, karena bahagia itu pilihan, kita bisa memilihnya menjadi orang bahagia atau tidak bahagia. Anda temasuk mana saat ini?
about Cyber Information http://aboutcyberinformation.blogspot.com/

Manusia Harus BAca Ini!! Anda adalah Apa yang Anda Pikirkan

Dikisahkan, seorang ibu muda memiliki 2 orang putra. Sayangnya si putra bungsu mengalami pertumbuhan kemampuan berpikir yang lamban, tidak memiliki kecerdasan seperti sang kakak. Jadilah dia anak yang pemalu, rendah diri dan sering dilecehkan oleh teman2 di sekolahnya.

Tugas sebagai ibu merangkap tulang punggung keluarga, membuatnya kelelahan, sehingga kelambanan si bungsu pun sering menjadi sasaran kemarahan dan kejengkelannya. Kata-kata kasar, seperti: "dasar anak bodoh" dan sejenisnya seolah menjadi santapan sehari-hari buat si bungsu.


Ucapan sang ibu maupun ejekan dari teman-teman, meyakinkan si bungsu bahwa dirinya anak yang menyusahkan dan memalukan keluarganya. Kekecewaan terhadap diri sendiri tercermin pada kegiatan yang dilakukan dari hari ke hari. Setiap bangun pagi, saat menatap wajah sendiri dari pantulan kaca cermin, dia memulai kegiatan dengan menyapa diri yang ada di cermin sambil berucap lirih dan sedih, "Si bodoh sedang mencuci muka", "Si bodoh mulai menyikat gigi," "Si bodoh lagi mandi," "Si bodoh berangkat ke sekolah," dan seterusnya.


Waktu terus berjalan ...

Diceritakan, sebagai warga negara dewasa, ada wajib militer yang harus dijalani. Maka, si putra bungsu ini pun mendaftar dan mulai mengikuti berbagai tes: tes kesehatan, tes kemampuan fisik, dan tes yang lain. Saat hari pengumuman, dia dipanggil menghadap ke dewan penguji.

"Ah... Aku si bodoh, bisakah lolos tes kali ini?" katanya dalam hati, sambil memasuki ruangan dengan kepala tertunduk. Sungguh tidak diduga sama sekali, hasil tesnya ternyata mendapat pujian tertinggi dari dewan penguji. "Selamat anak muda! Hasil tes Anda luar biasa!! Anda sungguh pemuda yang hebat dan berbakat." Mendapat pujian seperti itu, dia seolah tidak mempercayai telinganya sendiri. Kata-kata dewan penguji adalah penemuan sisi baru dirinya yang tidak diketahui sebelumnya. Suara itu terus bergema di pikirannya, menumbuhkan kebanggaan, memotivasi setiap sikap dan tindakannya yang mencerminkan bahwa dirinya orang hebat dan luar biasa. Mulailah siklus hariannya berubah, "Aku, orang hebat sedang mandi," "Si hebat mencuci muka," "Pemuda berbakat lagi mengosok gigi," dan seterusnya. Kepercayaan diri dan citra dirinya meningkat luar biasa.


Hingga20 tahun kemudian, si bungsu membuktikan dirinya sebagai salah seorang pengusaha sukses yang disegani, dihormati, dan menerima banyak penghargaan.


Pola pikir dan keyakinan adalah kekuatan di belakang sistem sukses yang ada di dalam diri kita. Apapun yang kita bayangkan dan kita yakini terus menerus dalam benakkita, pada akhirnya akan terwujud dalam kenyataan. Itulah hukum pikiran universal yang berlaku.

Kalau kita selalu berkata: "Mana mungkin aku bisa sukses?", "Aku sulit berhasil," maka kecenderungan sikap mental seperti itu akan disusul oleh kenyataan berupa kegagalan. Sebaliknya kalau kita berkata pada diri sendiri, "Aku bisa sukses, "Aku mampu," besar kemungkinan kita akan berusaha keras dengan berbagai cara sehingga kesuksesan bisa diraih persis seperti yang diyakini dan kita pikirkan.

Jadi tepat sekali ungkapan yang mengatakan YOU ARE WHAT YOU THINK. Anda adalah seperti apa yang Anda pikirkan! Mari, miliki citra diri yang sehat! Miliki keyakinan diri yang mantap!
about Cyber Information http://aboutcyberinformation.blogspot.com/

Segala Hal Butuh Biaya

Ada idiom berbahasa Inggris yang kerap kita dengar, "There's no free lunch" atau tidak ada makan siang yang gratis. Hal itu bisa diartikan, bahwa di setiap hal yang kita lakukan, pasti butuh pengorbanan. Ada hal yang harus kita kerjakan, lakukan, atau bayarkan, untuk mencapai sesuatu. Idiom tersebut mengingatkan saya pada pepatah Jawa lama yang telah jadi judul tulisan artikel ini, Jer Basuki Mawa Beya, bahwa segala sesuatu membutuhkan biaya. Sekilas, orang akan beranggapan bahwa pepatah ini sangat bersifat materiil. Akibatnya, ada yang kemudian membuat "sindiran" dengan pernyataan: "Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya perlu uang."

Tak salah memang. Tapi, pepatah Jawa tersebut sebenarnya punya nilai yang jauh dari sekadar materi. Nilainya sungguh luhur, yakni, bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ada proses, ada pengorbanan yang diberikan, ada kerja keras, ada keringat yang harus dikucurkan. Dan, inilah kesejatian hidup yang kita jalani. Tanpa kerja, hidup akan sia-sia. Tanpa bertindak, hidup tak akan jadi apa-apa.

Karena itu, adanya tantangan dan ujian dalam setiap proses perjuangan yang kita jalani sebenarnya adalah hal yang biasa. Justru itulah "harga" yang harus kita bayar untuk jadi pemenang kehidupan. Maka, jika kita mampu memaknai hal tersebut dengan kesungguhan, saat menghadapi cobaan, haruslah kita syukuri. Karena, dengan "bayaran" itu, kita pasti akan mendapat sesuatu.

Cerminan itu bisa kita lihat dari berbagai kisah sukses di dunia. Tak ada satu pun sosok berpengaruh dan sukses di dunia ini yang tidak melewati berbagai ujian dan cobaan dalam meraih impian-impiannya. Hanya saja, kadang kita sering "silau" dengan hasil yang telah mereka raih. Sehingga, kita sendiri malah lupa untuk bertanya, berapa harga yang harus mereka bayar untuk mencapai prestasi tersebut.


Dalam sebuah tulisannya, Malcolm Gladwell, pengarang buku fenomenal, Think dan The Tipping Point menyebut bahwa untuk menjadi ahli dan sukses di sebuah bidang, seseorang harus "membayar" dengan kerja keras minimal 10 ribu jam terbang. Apa artinya ini? Jika dihitung secara matematika, bila seseorang bekerja 8 jam sehari, dan 5 hari seminggu, maka dibutuhkan antara 4-5 tahun untuk menjadi ahli di bidang tersebut. Itu pun belum tentu langsung sukses. Masih ada proses lain yang harus dilewati sehingga keahliannya itu mendapatkan "gaji" (penghargaan) tinggi sesuai dengan kemampuannya.

Maka, jangan heran ketika Korea Selatan, yang dianggap mustahil berprestasi di Piala Dunia 2002 silam, bisa masuk ke semifinal. Terlepas dari keuntungan sebagai tuan rumah, tapi prestasinya sangat fenomenal. Konon, sang pelatih saat itu, Guus Hiddink, khusus melatih fisik pemain Korea Selatan mati-matian di awal-awal memegang tampuk kepelatihan. Ia sempat diprotes, mengapa hanya latihan fisik yang digenjot. Tapi, ia bergeming dan tetap pada pendiriannya. Gemblengan berjam-jam, berhari-hari, hanya khusus melatih fisik terbukti membuat pemain-pemain Korea Selatan tampil seperti tak pernah kehabisan tenaga.
Konon, pelatih baru, Alfred Riedl sangat tegas dan tak mau diintervensi saat memilih pemain. Sedari awal ia bahkan berujar, kalau ada pemain-bahkan berkaliber bintang andalan lapangan-yang tak menuruti katanya, dia akan tegas untuk mencoretnya dari daftar pemain.Tak hanya itu, porsi latihan tim sepak bola kita pun konon diberikan porsi latihan yang lebih keras dari sebelumnya.

Itu adalah sekadar contoh, bahwa butuh pengorbanan untuk mencapai kesuksesan. Namun, itulah harga yang harus dibayar. Itulah "kawah candradimuka" yang harus dilewati untuk mencapai apa yang diinginkan. Maka, sejatinya, tak ada sukses yang instan, karena semua butuh diperjuangkan. Dan, saat sudah menggapai kesuksesan, harus disadari pula, bahwa semua itu hanya sementara. Karena itu, saat satu kemenangan diraih, masih ada lagi "harga-harga" lain yang harus terus dibayar untuk menggapai kemenangan yang lain.

Jer basuki mowo beya
, semua butuh "biaya". Untuk itu, mari kita siapkan diri, agar selalu mampu membayar apa pun keinginan kita dengan perjuangan sepenuh hati. Sehingga, dengan kesiapan "bayar harga" itu, kita akan lebih optimis dalam perjuangan sepanjang tahun 2011!
about Cyber Information http://aboutcyberinformation.blogspot.com/

Kenang 6 Tahun Tsunami, Nelayan di Aceh Tak Melaut

Dahsyatnya Tsunami Aceh
BANDA ACEH – Untuk mengenang enam tahun musibah tsunami Aceh, nelayan di provinsi itu berhenti melaut besok, 26 Desember 2010. Mereka akan berdoa bersama untuk korban dalam musibah itu.

“Kami sudah putuskan tanggal 26 Desember hari pantang melaut,” kata Panglima Laot (Pemimpin Lembaga Adat Laut) Aceh, Teuku Bustamam di Banda Aceh, Sabtu (25/12/2010).

Terhitung Sabtu malam ini, para nelayan di Aceh menghentikan aktivitasnya. Mereka kembali diizinkan berlayar mulai Minggu malam besok. “Ini kesepakatan adat bersama rapat dengan para panglima laot dari seluruh Aceh,” ujar Bustamam.

Aksi berhenti melaut dilakukan mengingat saat tsunami 2004, mayoritas korban adalah
masyarakat pesisir yang umumnya nelayan. Gempa 8,9 SR disusul gelombang tsunami meluluh lantakkan pesisir Aceh pada 26 Desember 2004. Sekitar 230 ribu jiwa meninggal dunia.

Bustamam meminta warga pesisir menggelar doa bersama atau ritual adat (Khanduri) untuk para korban yang meninggal dalam musibah itu, sekaligus memohon kepada Tuhan agar menjauhkan Aceh dari musibah.
about Cyber Information http://aboutcyberinformation.blogspot.com/

Alasan Kenapa Cewek Jepang Kurus-Kurus


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh50lXruwpC29l8iJZJdNS14J_X_eFMW9cq7O7jInvFMSXpMqrIRrlCu10nIyNBwd6QGd44BuftJoiMoQ4HZvTKsY-EidarLralCNQfEdn1ZbPPyxXCxmu-Obh3t9pH0cB1O377aJAis_BZ/s400/jepang.jpg

Banyak teman-teman saya di Indonesia yang bertanya, "kenapa ya cewek jepang kok kebanyakan pada kurus-kurus gitu?" Mereka beranggapan seperti itu sepertinya karena kebanyakan dari mereka melihat wanita Jepang yang ada di film-film dorama saja. Kalau itu sih emang iya... jelas kurus-kurus dan cantik-cantik, kalau nggak gitu mana laku filmnya untuk ditonton. Memang sepertinya saat ini memiliki badan kurus dan ramping super singset cukup jadi trend di kalangan wanita Jepang. Sebuah trend yang sepertinya bukan hanya di Jepang saja, tapi sudah mengglobal di seluruh dunia. Ada anggapan bahwa wanita kurus itu lebih baik dan cantik secara penampilan dibandingkan dengan wanita yang gemuk.
Saking mengglobalnya trend kurus ini, sampai ada dalam salah satu dorama Jepang yang judulnya "Teppan Girl Akane" dalam salah satu episodenya menceritakan tentang diadakannya perlombaan wanita paling kurus yang diadakan di salah satu SMA. Pesertanya diwajibkan memenuhi beberapa kriteria untuk bisa memenangkan perlombaan tersebut. Di antaranya mereka harus bisa melalui sebuah lubang berbentuk huruf "O" yang diameternya hanya 40 cm. Kemudian berat badan mereka tidak boleh melebihi 43 Kg. Untuk mengikuti dan berusaha memenangkan lomba tersebut, akhirnya banyak remaja-remaja Jepang yang berusaha mati-matian untuk melakukan diet makanan. Sampai bahkan ada yang tidak makan selama seharian demi mengurangi berat badan mereka.

Anggapan teman saya di atas tadi tentang persentase wanita Jepang yang lebih banyak yang kurusnya daripada yang gemuk memang tidak sepenuhnya salah. Tapi bukan berarti juga tidak ada yang gemuk, atau yang gemuk jumlahnya sedikit sekali. Walaupun memang selama saya tinggal di Jepang, rasa-rasanya jarang melihat ada wanita Jepang yang gemuk, walaupun dia masih remaja atau sudah menjadi orang tua.

Berdasarkan data statistik terbaru yang dikeluarkan tim Internasional tentang masalah kegemukan di negara-negara maju, ternyata memang menunjukkan bahwa Jepang adalah negara dengan angka paling rendah (hanya 3%). Sedangkan yang paling tinggi adalah Amerika Serikat sebesar 34%. Selain itu, di data itu juga disebutkan bahwa rata-rata umur wanita Jepang tergolong paling tinggi yang mencapai usia 85%.

http://lh5.ggpht.com/_F4tR6M7I9sA/SVbxwAEeP6I/AAAAAAAAB08/vArc5HafMAI/s800/el081223159.jpg

Hal ini sepertinya akan menarik jika kita bahas. Pertama, jika kita lihat dari taraf kecintaan orang Jepang terhadap makanan, dengan presentasi kegemukan yang rendah adalah sangat mengherankan. Sehingga kita bisa mengira-ngira mungkin rahasianya ada di jumlah kalori makanan dan minuman yang kecil yang biasa mereka konsumsi. Orang Jepang umumnya tidak terlalu mementingkan rasa dari berbagai macam bumbu campuran, tetapi mereka lebih mengutamakan kesegaran dari makanan tersebut. Kebudayaan dan tradisi Jepang mendorong untuk menghargai 'Kesegaran Yang Paling Utama', maka dari itu perempuan Jepang senang membeli banyak ikan, sayur mayur, dan buah-buahan sejenisnya. Sedangkan daging merah, kembang gula, biskuit, dan bahan makanan cemilan dibeli lebih sedikit. Makanya, kalau teman-teman memakan makanan Jepang yang asli (dalam artian tidak diubah menjadi selera orang Indonesia seperti yang dijual di Hoka-Hoka Bento atau restoran-restoran makanan Jepang lainnya di Indonesia), teman-teman tidak akan menemukan beraneka ragam rasa di sana. Umumnya kita hanya akan merasakan rasa asin dan manis yang dominan, bahkan terkadang malah hambar dan tidak ada rasa tambahan selain rasa asli dari bahan baku makanan tersebut.

Salah satu contoh yang pernah saya rasakan sendiri mengenai budaya pengontrolan kalori yang biasa dilakukan orang Jepang adalah ketika saya makan di kantin kampus. Kantin di kampus saya menyediakan berbagai macam menu makanan dan minuman yang seimbang. Yang menjadi unik adalah, ternyata di setiap tulisan daftar nama makanan atau minumannya itu tertulis daftar kandungan kalori per gram di tiap makanan tersebut. Sehingga ini membuat kita bisa menghitung berapa kalori yang akan atau sudah kita konsumsi.

Kemudian, kalau kita melihat pola arsitektur rumah-rumah di Jepang, umumnya ukuran dapur itu tidak ada yang besar. Coba bandingkan dengan ukuran dapur rumah-rumah di Eropa atau Amerika, umumnya sampai memakan space yang sangat luas. Penggunaan ruang dapur yang minimalis oleh orang Jepang ini barangkali berpengaruh pada frekuensi dan jumlah makanan yang disimpan di dapur. Karena mereka tidak memiliki ruang yang cukup luas, jadi umumnya frekuensi mereka untuk membeli sayuran yang segar lebih sering. Sebaliknya, kalau di Amerika dan Eropa, penduduknya senang membeli bahan makanan sekali dalam seminggu lalu disimpan dalam lemari pendingin.
Alasan kedua yang mungkin dapat mendorong wanita Jepang memiliki badan yang ramping adalah adanya semacam ungkapan yang dikenal masyarakat Jepang yaitu "makan nasi sebaiknya dimakan delapan butir sampai kenyang". Maksud dari ungkapan ini adalah sebaiknya tidak makan sampai terlalu kenyang. Selain itu, bobot bahan makanan yang berbeda dari daerah barat dan timur juga merupakan salah satu alasan yang penting.

Kalau kita perhatikan pola makan orang barat, bobot bahan makanan yang suka mereka konsumsi, dari tahun ke tahun makin lama makin meningkat. Sehingga inilah yang pada akhirnya menyebabkan angka kegemukan di negara-negara barat lebih tinggi. Sedangkan kalau di Jepang, penduduknya melakukan hal yang lebih baik. Orang Jepang rata-rata setiap harinya menyerap 2700 kalori, namun orang Amerika rata-rata setiap hari menyerap 3700 kalori, perbedaan antara keduanya 1000 kalori."

Pola makan orang Jepang sepertinya memang telah terpengaruh oleh sikap dan cara aliran Zen di Negara China terhadap bahan makanan, "Memilih bahan yang paling segar, memasak dengan hati yang semangat." Saat menyantap nasi jangan melahap dengan rakus, pada saat menikmati makanan yang lezat, masih harus belajar cara untuk menghargai keindahan. Penampilan yang indah adalah sumber dari kehidupan memasak orang Jepang.

Alasan ketiga yang dapat mendukung wanita Jepang memiliki tubuh kurus adalah mungkin dikarenakan kebiasaan mereka untuk beraktifitas fisik dalam skala yang cukup sering dan besar. Di samping budaya dan etos kerja mereka yang sangat tinggi, orang Jepang itu sangat suka berjalan kaki dan mengendarai sepeda. Makanya kalau kita ada di Jepang pada jam-jam masuk kerja atau sekolah, biasanya kita akan sering berada dalam kerumunan orang-orang yang berjalan dengan cepat di pinggir-pinggir jalan atau di stasiun-stasiun kereta sedang bergegas ke kantor atau sekolah mereka masing-masing.

Jadi... bisa kita tarik kesimpulan, bahwa ternyata ada beberapa faktor yang bisa mendorong dan memberikan kita jawaban mengapa orang Jepang, atau wanita Jepang pada khususnya memiliki tubuh ramping dan jauh dari kegemukan. Ternyata hal itu dikarenakan makanan minuman dan cara hidup, masyarakat yang akrab dan membentuk semangat jiwa, sistem pemeliharaan kesehatan yang maju, selain itu, kemungkinan masih ada sedikit unsur turun temurun juga olah tubuh.
maspeypah
about Cyber Information http://aboutcyberinformation.blogspot.com/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... -->
 
All About Lembaga cyber information | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger