Buscar

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

Jadilah Orangtua yang Efektif

Suasana dan perkembangan masa kecil anak zaman dulu dibandingkan anak sekarang jauh berbeda. Sehingga tidak semua gaya mendidik orangtua pada masa lalu cukup efektif disaat ini. Meskipun nilai budaya dan agama seperti yang diajarkan orangtua masa lalu sangat baik untuk dipertahankan buat anak kita.

Sehingga menjadi orangtua yang efektif mas akini penuh tantangan. “Sebab itu belajar menjadi orang tua yang efektif sangatlah penting. Agar kita mampu membantu mendidik anak kita menghadapi tantangan di zaman sekarang ini dan menjadi individu yang sukses dan bahaga,” ujar zoya Dianaesthika Amirin, Mpsi, Psikologi dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada seminar sehari bertajuk Menjadi Orangtua Efektif yang diadakan PT Citra Nusa Insan Cemerlang (CNI) Cabang Palembang bekerjasama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Sumatera Selatan di Bukit Golf Resto & Resort Cafe Jalan AKBP Cek Agus Palembang, Sabtu (16/4) kemarin.

Dikatakannya oleh psikolog yang pernah menjadi saksi ahli Ariel Peterpan, menjadi orangtua adalah bagian dari tugas dan perkembangan seseorang menjadi dewasa, kadang kita memiliki anak seringkali disertai perasaan gembira sekaligus cemas akan tanggung jawab membesarkannya. Kehadiran anak pertama biasanya akan mengubah hubungan seorang dengan suami/istri. “Jadi selain menjadi orangtua, tugas kita lainnya menitii karier dan menjaga keintiman dengan pasangan, serta bagaimana menjadi orangtua yang efektif di tengah kesibukan kita sehari-hari,” imbuhnya,

Kesuksesan seorang anak, tambah wanita kelahiran 7 September 1975 ini, dapat dihasilkan dari cinta dan perhatian orangtua. Sebagai orangtua harus memiliki cinta dan perhatian yang lebih pada anak, misalnya dengan meluangkan waktu berkualitas bersama anak memberikan dukungan moral. Para orangtua juga harus bisa mengelola stres pada anak. Pengelolaan stres pada anak efektif adalah relaksasi atau terapi menulis. Selain itu orangtua juga dituntut untuk terampil membina hubungan dengan pasangan di depan anak. Hubungan dengan pasangan dapat diaplikasikan dengan cara menghindari komplik di depan anak, meminta maaf dan asling memaafkan di depan anak, serta tunjukan di depan anak bahwa orangtua saling mencinatai. “Terpakan cara-cara tersebut karena dapat mempengaruhi tumbuh kembangseorang anak. Sehingga mereka nyaman dan menjadi individu bahagia dan sukses di lingkungan keluarga yang sehat dan positif,” ungkap Zoya. Sementara, Head of Branch PT CNI Cabang Palembang Mukti mengatakan dengan adanya seminar ini hendaknya orangtua dapat informasi bermanfaat mengenai bagaimana cara menjadi orang tua yang efektif.

Sumber: Sriwijaya Post | Palembang,  24 April 2011 | Hal : 15 | Smart Mom | Berita Daerah

Rabu, 11 Januari 2012

Tips Cara Melatih Anak Makan Sendiri

Makan adalah wujud tanggung jawab paling dasar yang bisa dikenalkan pada anak. Jadi, jika memungkinkan, ajarkan si kecil menyuap makanannya sendiri lebih dini. Tentunya kita harus melihat usia dan tahap perkembangan otak anak.

Sebenarnya, sejak usia 18 bulan, umumnya anak sudah bisa diajarkan tanggung jawab. Di masa ini anak mulai mengalami perkembangan individu dan punya ekspektasi sosial.

Tandanya seperti ketika anak bisa mengambil dan memasukan sendiri makanan ke dalam mulutnya, ketika anak bisa memilih bentuk atau rasa yang ingin dimakan, atau ketika si kecil bisa meminum dengan gelas bergagang dan mengembalikannya lagi tanpa membantingnya

Berikut beberapa cara mengajarkan anak untuk makan sendiri:
  1. Beri tahu anak cara memegang sendok yang benar serta biasakan anak cuci tangan terlebih dahulu sebelum makan.
  2. Ajarkan teknik bagaimana mengambil makanan dengan sendok, orangtua bisa memberinya contoh atau menggenggam tangan anak secara bersama-sama.
  3. Buatlah makanan menjadi potongan-potongan kecil yang mudah diambil oleh anak serta berikan porsi makanan sedikit demi sedikit.
  4. Biasakan anak makan di meja dan dalam posisi duduk, bukan berdiri, tiduran atau sambil berlari-lari.
  5. Buatlah kegiatan makan tersebut menjadi hal yang menyenangkan bagi anak. Biarkan mereka bereksprimen sendiri dengan makanannya.
  6. Lengkapi si kecil dengan tadah liur, tisu, atau lap.
  7. Usahakan orangtua mengajari anaknya saat semua anggota keluarga sedang makan bersama, karena ini bisa memotivasi anak untuk bisa makan sendiri seperti yang lainnya.
  8. Jangan terlalu memaksa si kecil. Kadangkala orang tua memaksa makan anaknya pada saat si kecil tidak merasa lapar.
  9. Jangan memarahi anak jika makannya berantakan atau berceceran dimana-mana, karena anak akan merasa takut untuk mencoba lagi.
  10. Berikan apresiasi seperti tepuk tangan, pelukan atau pujian lain jika anak berhasil makan sendiri dengan benar.

Satu kunci melakukan hal tersebut adalah kesabaran, sebagai orangtua tentunya Anda harus sabar mengajarkan hal positif bagi anak Anda. So, selamat mencoba!


(Berbagai sumber)

Bayi ASI Lebih Cengeng Dibandingkan Bayi Susu Botol

Sebuah penelitian menemukan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif jauh lebih rewel dan lebih suka menangis, dibandingkan bayi yang hanya diberi susu formula biasa.

Namun, para ibu diharapkan tidak terlalu cemas. Perilaku seperti ini dianggap wajar dan ibu harus bisa menenangkan si kecil daripada harus 'mencekoki' bayi dengan botol susu saat si kecil rewel.

Peneliti mengungkapkan bahwa sifat bayi yang mudah marah, bukanlah tanda bayi merasa lapar atau stres, melainkan itu merupakan bagian alami dari bentuk komunikasi dinamis antara bayi dan ibunya.

Penelitian dilakukan untuk menilai tingkat tempramen dari 316 bayi pada usia 3 bulan dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh sang ibu. Setiap skor berbeda antara bayi yang diberikan makanan berupa ASI eksklusif, susu formula dan campuran antara susu ASI dan susu formula.

"Secara khusus, dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula, bayi ASI dilaporkan menunjukkan tekanan yang lebih besar, kurang tersenyum, tertawa bahkan berbicara. Mereka juga lebih lambat untuk menenangkan diri setelah mengalami tekanan atau kegembiraan, dan lebih sulit ditenangkan oleh ibunya," ungkap peneliti, dalam hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal online Public Library of Science ONE.

Penelitian ini juga membantu menjelaskan mengapa banyak ibu yang menyerah saat memberikan ASI pada bayi dalam jangka waktu pendek, hanya gara-gara bayi lebih cenderung menangis.

"Temuan kami sebenarnya mirip dengan tahap kehidupan lainnya, bahwa orang orang menemukan kenyamanan pada makanan," ungkap peneliti Dr Ken Ong dari Unit Dewan Penelitian Medis Epidemologi di Cambridge, seperti yang dilansir melalui Dailymail, Rabu (11/1).

Bayi yang hanya diberi susu formula biasa lebih mungkin mengalami kelebihan makanan. Sama seperti orang dewasa yang kelebihan makanan, bayi yang diberi susu kalengan jauh lebih tenang dan jarang rewel. Namun, peneliti mengingatkan pemberian susu formula yang mengandung gizi berlebihan akan menyebabkan kenaikan berat badan bayi yang terlalu cepat hingga berisiko mengalami obesitas dini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... -->
 
All About Lembaga cyber information | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger